Rabu, 06 Juni 2012

SHALAT GAIB

« SHALAT GAIB / SEMADHI
SAPTA DAYA GESANG MANUNGGAL »
SHALAT GAIB / SEMADHI
Qur’an surat Al-A’raf : 29 ;
Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.” Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya).”
Qur’an VII Ayat 143.
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
Sebelumnya Ayat Suci di atas menerangkan tentang bab tataran/ tingkat Syari’at dan Tari’kat dan yang paling penting adalah semadhi/tapa brata atau puasa badan. Penjelasan ini akan dimulai dari cara lahiriah, yaitu pokok bagi kesehatan.
Puasa dahulu dikerjakan menurut kebisaaan orang banyak (ikut –ikutan) itulah yang disebut puasanya orang Syari’at. Karena ikut-ikutan maka sampai sekarang banyak yang tidak tahu manfaatnya.
Kerangan dari Hadist Buhari Muslim yang kurang lebih artinya : Orang-orang yang puasa itu perutnya baik (luhur), pikirannya baik dan budinya suci.
Qur’an Surat Al, Baqarah 183.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
1. Kenapa orang yang berpuasa itu merasa tidak enak, malas dan ngantuk ?
2. Kenapa Firman di Qur’an ditujukan kepada orang-orang yang beriman ?
3. Dan apa sebabnya puasa yang sudah dikerjakan sejak ber abat-abar itu bisa mensucikan diri ?
Sebenarnya pekerjaan puasa itu sudah berabad-abad dulu dikerjakan, sebelum zaman nabi I’sa menyiarkan agama dan kitab Injil yang juga menerangkan tentang puasa. Sekarang zaman sudah maju. Banyak para ahli melakukan penelitian tentang puasa. Itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan puasa karena puasa itu banyak manfaatnya.
Menurut ilmu kesehatan (Prof. Dr. A. Ramli) mengatakan bahwa hewan-hewan dan mahluk yang hidupnya memamah biak melalui mulut dan ditekan keperut langsung kenyang. Makanan itu sarinya menjadi pokok kebutuhan kita. Contohnya: zat lemak, hidrat arang, air, garam, putih telur dan vitamin-vitan yang terdapat pada daging, Sayur-sayuran, Kacang-kacangan dan segala makanan yang belum busuk , Kalau makanan itu sudah busuk pitaminnya sudah hilang. Makanan yang dikunyah tersebut dialiri dengan air ludah yang keluar dari kelenjar ludah yang mengakibatkan maknan tersebut menjadi sari pati dan berubah menjadi zat hidrat arang, kemudian menjadi zat gula atau mallose (Menurut ilmu kedokteran).
Makanan tadi langsung ditelan keperut besar kemudian diterima oleh kelenjar-kelenjar kecil yang jumlahnya beribu-ribu dan perut (Usus-usu besar) mengeluarkan lendir yang bisa menghancurkan makanan-makanan tadi. Makanan yang berasal zat telur yang sudah berubah menjadi Maltose mudah dihancurkan dengan lendir usus. Zat telur yang sudah berubah sifatnya itu disebut Pepton.
Makanan yang sudah halus masuk ke usus halus dan dipintu usus ada saluran kelenjar yang terbagi dua yaitu: saluran empedu dan saluran pangkreas (ludah yang asalanya dari ginjal). Dua-duanya mengaliri usus. Empedu asalnya dari bagian hati gunanya untuk melebur zat lemak yang dibantu oleh pangkreas hingga halus sekali. Pangkreas menghancurkan zat telur sampai berubah sipatnya menjadi hamud amino. Zat hidrat arang dan lemak yang hancur mudah diisap oleh usus halus, kemudian makanan trersebut menjadi sari-sari dan sari-sari tersebut menjadi bibit asal darah dan daging. Diatas lapisan usus-usus menghisap makanan yang sudah menjadi sari-sari aslinya yang terdapat di limpa (getah bening) kemudian seluru zat-zat meresap ke pipa-pipa darah dan terus mengalir ke pipa-pipa darah yang besar dan mengalir ke hati dan merata keseluruh badan. Yang tertinggal hanya lendir-lendir pencernaan.
Otak itu mebutuhkan darah untuk membasahi yang diterima dari urat-urat sarap dan otot-otot yang ada pada kerangka manusia. Selama perut dan pembuluh-pembuluh menghancurkan makanan, otak otak kita kekurangan darah penyiram yang menyebabnya kurangnya daya berpikir.Itulah sebabnya para leluhur kita dulu berkata bahwa kalau perut lapar pikiran buntu, dan kalau kenyang pikiran terang. Karena puasa dilakukan disiang hari dan pikiranpun bekerjanya disiang hari. Untuk itu apa yang dikatakan para ahli adalah benar. Maksudnya apabila perut lapar maka perut itu diam (tidak bekerja). Karena tidak bekerja maka tidak membutuhkan darah lebih dari ukurannya. Darah yang tidak dibutuhkan itu lansing naik membasahi otak dan itu terjadi setiap hari dan otak terus basah sehingga otak itu lancar, tidak mudah lupa (pikiran sehat).
Puasa sering dilakukan oleh para penganut tingkatan tarekat. Umumnya mereka mengurangi makan seperti mutih (makan nasi saja tanpa garam), Ngrowat (makan palawija dan buah-buahan), Puasa ini menuruk kesehatan dapat mengurangi kesehatan badan karena sari-sari makanan tidak mencukupi. Akan tetapi mengurangi itu bukan berarti mengurang kebutuhan. Petunjuk makan yang baik adalah kalau kita lapar maka kita makan tidak boleh berlebihan untuk mengurangi zat lemak. Tubu yang memiliki ilmu itu adalah tubuh yang memiliki pikiran yang saehat. Karena kalau badan kita sehat pikiranpun kita sehat. Orang yang pintar, bijak yang bisa menjadi wali, pendeta adalah orang yang memiliki badan sehat. Kalau tubuh sakit pembawa ilmupun sakit. Untuk itu:
1. Jangan tamak kepada makanan;
2. Makan minum sederhana jangan mengurangi jenis makanan;
3. Bekerja yang sederhana tidak mengurangi kebutuhan, dibatin harus niat bekerja yang baik-baik (Mensucikan diri meniru kesucian Allah);
4. Mengerjakan peraturan agamanya sendiri-sendiri, tidak perlu menghina, karena bertentangan dengan perintah Allah.
Penjelasan tentang Bab Shalat/Semadhi itu lebih kurang adalah dari peraturan tapa badan atau puasa. Karena Wedaran Wirid itu bertujuan untuk selamanya, sehingga keterangan-keterangan diselaraskan kemajuan akal piker yang berdasarkan kipada Kias (koreksi). Shalat/Semadhi sebenarnya bukan pekerjaan main-main karena Semadhi (Shalat Tauhid) adalah usaha Shalat benar-benar (Panembah Jati) yang sering dilaksanakan oleh para tingkatan Ma’ripat untuk mencapai At’tauhid (menyatu kepada Allah). Tradisi Semadhi di dunia Jawa adalah mencontoh pada wayang kulit yang dikerjakan para Begawan, Pendeta dan Satria. Syaratnya harus menutup 9 lubang hawa napsu (Hawa Songgo) yaitu : 2 lubang mata, 2 lubang telingga, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 1 jubur dan 1 lubang parji. Sebenarnya bukan menutup hanya jangan menggunakan sewaktu Semadhi.
Menurut agama Islam pekerjaan itu melanggar hukum Tuhan. Merusak kesehatan, merusak kodrad Iradat secara paksa karena asalnya dari Dat Allah, Walaupun tidak apa-apa bagi yang menjalani pekerjaan itu harus ditinggalkan, jika tidak dirubah pekerjaan memaksa diri itu bisa mengurangi irodat kita sendiri dan bisa menyebabkan lemahnya jiwa dan yang dikwatirkan adalah kerusakan panca indra, astendria.
Peraturan itu sudah menjadi darah daging sejak zaman dulu sampai sekarang secara turun temurun. Penyebabnya adalah menurut penelitian ilmu jiwa bahwa banyak guru-guru kebatinan dan murid-muridnya yang terkena penyakit Neorotis (Penyakit Syaraf), menurut kebisaaan kalau bicara asal keluar, selalu menunjukkan bahwa mereka itu sakti, banyak ilmu selalu menghina ilmu lain, besar bicara dan pikirannya selalu bingung. Kalau berbuat semaunya dianggap mendapat wahyu. Penyakit itu mudah diatasi apalagi bagi para pelajar Kasunyatan (Shallat tauhid) dengan cara :
1. Kalau waktu berpikir berat, dikepala pening harus berhenti sejenak, jangan menuruti kemauan.
2. Selalu bangun subuh, lalu jalan-jalan karena bisa menyegarkan badan menghilangkan lemah dan lesu.
Kerena peraturan-peratuan yang melanggar kodrat. Hidung untuk mencium, mulut untuk makan, telingga untuk mendengar tidak untuk merasakan makanan. Kenapa harus distop (ditutupi) walaupun sekali-kali dan selanjutnya sebentar-sebentar memakai sujud , sebentar-sebentar memakai sujud, sebentar-sebentar membujurkan kedua kaki seperti ceritanya Begawan ada yang tapa di kolam, di gua menjalankan wadat (tidak kawin) pekerjaan tadi melanggar kodrat dan iradatnya Allah. Oleh karena jalan itu untuk mencapai tujuan dengan satu zat yang tidak bisa dijangkau oleh apapun, maka harus diluruskan dengan suatu dasar enak dan menyenangkan (selaras) dengan jiwa dan jasmani yang diharapkan agar memiliki yang baik dan yang buruk.
Kata Semadhi berasal dari bahasa sangsekerta yang artinya shallat makripat (Khusuk) atau Tauhid. Kata Yoga itu juga berasal dari bahasa Sangsekerta sama dengan Shalat makripat yang mengerjakannya disebur para Yoghi. Yogha dibagi menjadi 2 bagian :
1. Hatta Yogha : Suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh orang umum (awam) bisa juga dikatakan tingkat syari’at terhadap agama islam. Penjelasannya seperti ini : hatta Yogha harus mengurangi makan, berpuasa melarang apa yang tidak baik. Tapa atau nyepi sampai berbulan-bulan. Yang utama memaksa jasmani dan tidak mau kawin. Hal itu perbuatan yang menghukum nafsu.
2. Raja Yogha : Peraturan shallat makripat yang dilakukan oleh para bisaksana, para pandita dan para ulama agung islam.
Agama Islam menyebut Shalat makripat tanpa membedakan tingkat sareat atau makripat yang dilaksanakan di mesjid atau musholla. Keterangan Ma’ripat atau Raja Yogha itu tujuan hanya menyatu dengan Allah atau At’tauhid (Nyuwiji). Artinya menuju hidupnya sampai ke liang lahat (innalillahi wa innaillaihi rojiuun) kumpul asal mulanya (alam baka) kekal yaitu alam yang tidak bisa dijangkau oleh alat apa saja. Jadi tujuan kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat. Sempurnya di dunia ini bisa mencapai surga seperti kita hidup, tujuan akan membuktikan alam yang akan kita alami setelah mati. Shalat makripat yang dikerjakan oleh para umat Muhammad dijaman Nabi Mauhammad dikerjakan oleh ke empat para sahabat.
Apa aslinya mengerjakan Raja Yogha?. Bab pekerjaannya perut dan otak sudah dibahas, begitu juga zakat hidung, mata, mulut dan parji. Sebelumnya menerangkan aslinya Semadhi. Sebenarnya pencegahan parji diterangkan dahulu. Inti sarinya menjawab pertanyaan apa sebabnya kita perlu menahan nafsu parji ?.
Terhadap manusia parji itu merupakan salah satu alat menurunkan benih manusia agar dapat berkembang biak di dunia, tetapi kalau nafsu dibiarkan menjadi tidak baik untuk kesehatan diataranya :
1. Kalau menuruti kemauan nafsu, sewaktu bersetubuh kita akan mengeluarkan hormon-hormon dan kehabisan ternaga (kehabisan kalori) atau zat kebutuhan jasmani. Walaupun habisnya tidak sia-sia dan hanya seminggu sekali tubuh menjadi lemas, apalagi kalau setiap hari, bisa berbahaya kalau melewati batas, sedikit demi sedikit kekuatan tubuh pasti berkurang. Tubuh menjadi cepat tua dan matanya kabur.
2. Bahaya lain adalah daya pikir menjadi lemah, terbukti menjadi penakut, kurang percaya diri dan malu-malu. Tapi jika dilakukan hanya sekali-kali untuk menurunkan bibit manusia, menurut kesehatan air mani yang tidak keluar naik keotak melalui tulang punggung dan tengkuk, bisa membantu aliran darah untuk membasahi saraf-saraf otak sehingga mudah berpikir dan lancar. Dan kaburnya mata itu disebabkan banyaknya mengeluarkan air mani tadi.
A. Semadhi menutupi lubang 9 (Hatta Yogha) sebelumnya menerangkan menutupi lobang sembilan nafsu, membahas tentang sembahyang (Menyembah Allah). Shalat diterangkan terlebih dahulu. Di Wedaran Wirid Shalat yang sebenarnya ada 4 tingkatan :
1. Shalat Syari’at, yaitu Shalatnya jasmani. Penyucinya adalah air wudhu. Diterimanya Shalat akan menjadi makripatnya sariat, hanya mengetahui rastandria yang 5 panca indra. Panca Indra menyaksikan alam raya itu menjadi saksi bahwa Allah itu ada.
2. Shalat Tari’kat, yaitu penyembahnya hati sucinya mencega hawa nafsu. Berterimanya Shalatnya akan menjadi makripatnya tarikat. Tarikat mengetahui astandrianya yang 3 perkara, mengetahui tentang Allah, menyebabkan percaya dan tidak ikut-ikutan.
3. Shalat Hakikat, yauitu penyembahnya roh (jiwa). Bersucinya adalah waspada, tenang dan hening. Berterimanya Shalat bisa mengetahui rohaninya (rasa jati). Tingkatan ini yang sangat gawat karena disini akan terbukanya penghalang (warno) yang bisa menyebabkan berpisahnya jasad dan rohani (Mi’rad).
4. Shalat Ma’ripat, penyembahnya adalah jiwa (sukma), menyebabkan makripatnya makripat (makripatullah) sudah tidak memakai alat tetapi bisa khusuk (At’tauhid atau nyuwiji) memasuki alam yang tidak bisa dijangkau (Layu mahfud) jadi bukan hanya sariat saja dinyatakan sesuai dengan mi’radnya Nabi Muhammad SAW menuju alam Allah (Sidratul Muntaha).
Manusia memliki alat kasar dan halus, yang halus tidak bisa dilihat oleh mata, tetapi lengket ketubuh kita menyebabkan panca indra bisa bekerja masing-masing yang disebut rasa (saraf). Tali rasa (saraf) bisa bekerja menyalurkan kepada panca indra, karena bekerjanya rasa jati bekerjanya selalu memberi peringatan kepada roh jasmani yang bisa mengingat segala kejadian yang dikerjakan oleh pikiran dan jasmani. Bila berdirinya manusia itu karena dialiri rasa jati tadi maka bisa berdiri sendiri tanpa dialiri dari syaraf atau darah ke otak, pikiran terang tanpa hambatan.
Berdiri sendiri terhadap rasa jati (roh jasmani) ukurannya tanpa batas, bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata bisaa melainkan dengan mata batin (roso jati). Mengerjakan Semadhi (Shalat Ma’ripat) secara paksa menyebabkan putusnya tali rasa (syarap) Astendriyo seperti diletakan keluar dari lingkaran tadi. Karena rasa jati tadi kerjanya menyimpan dan mengetahui semua keadaan diluar dan didalam, maka kalau terputus dari tali rasa secara terpaksa maka bisa menyebabkan seperti orang mimpi atau ngelindur. Shalat tauhid seperti diatas itu kurang baik. Menurut pengkias jawa nampak mimpi tadi mengetahui apa-apa yang ada dialam mimpi. Sebenarnya semuanya tadi mengetahuinya karena rekaman-rekaman pikiran atau Astendriya waktu terbuka mata karena banyaknya angan-angan atau khayalan. Contohnya Tustel, pilim yang berada didalam tustel itu masih kosong, lalu tustel tersebut diarahkan kesuatu benda yang ingin dituju dan dipetik kemudian gambar langsung tertinggal difilm tersebut. Itulah angan-angan yang tertinggal dipikiran (tali rasa) karena tujuan secara paksa tadi maka semua tadi mempunyai kurang kekuatan (jaminan) seperti contoh dibawah ini;
Tidur terlentang dengan kaki lurus saling bertimpahan lalu mengatus nafas sambil berzikir, karena dipaksa atau kaki yang saling tumpang tindih badanpun merasa kurang enak, bahkan kakinya terasa kebas atau kesemutan lantas hal ini dianggap mulai mendapat wahyu dan Shalatnya diterima.
Sebenarnya darah yang mengalir keseluruh badan bisa saja agak tersumbat yang mengakibatkan kaki dingin seperti disiram air sewindu. Kemudian dibatin sambil memikirkan pengalaman dari cerit-cerita, kata guru atau kata buku yang menjadi pedoman.
Mengatur pernafasan sama dengan memerintah. Sebenarnya batin masih memerintah (mengatur nafas) sendiri, karena batin masih digunakan memerintah hal ini bukan Shalat tauhid melainkan melatih nafas.
Zikir (Mengingat Allah) itu semakin jelas , pikiran harus tentram tidak diperintahkan mengingat-ingat artinya pikiran terus diperintah terus bekerja, menggerakkan bibir untuk berbisik-bisik. Pekerjaan ini sama saja dengan mendiamkan tali rasa untuk mengaliri daya piker. Dalam islam pekerjaan ini disebut syirik dan harus dijauhi karena membahayakan diri.
B. Persemadhian (Shalat yang tidak Berbahaya)/Raja Yogha.
Tujuan Semadhi (Shalat tauhid) adalah untuk mengetahui gaibnya alam semesta, harus menggunakan kodrat dan iradat. Untuk itu harus menggunakan alat-alat sendiri. Mengerjakannya harus mengetahui pengalaman-pengalaman yang belum pernah diketahui. Buktinya jika masih ada yang kita lihat didunia ini berarti namanya bukan gaib. Tetapi apa saja yang telah direkam oleh pikiran (rasa jati) saja, tetapi jika mengetahui apa yang tidak ada didunia baru bisa dikatakan mengetahui gaib dan sebenarnya tujuan Shalat khusuk tadi hanya untuk menentramkan gerak astendrio (pikiran). Jika pikiran sudah tertram benar, yang bergerak adalah rasa jati/Rohani (roso eling). Ditingkat pembangunan jiwa (roh)yang masih hidup adalah rasa jati kita sendiri, Sebenarnya persemadhian (Shalat khusuk) itu menjadi tujuan, maka pekerjaan itu berusaha agar tujuan tadi tidak terhalang oleh rasa tidak enak, seperti pekerjaan yang memaksakan diri, yang baik dan cocok untuk saling menjaga diantara cara-cara dengan seenaknya, mau telentang, rukuk, sujud bisa saja asal bisa. Karena bebas dan tidak terikat jadi pekerjaan itu lebih enak dan memuaskan. Yang penting berusaha untuk menentramkan Tri Indra (pikiran, perasaan dan keinginan). Shalat tanpa tekad sama dengan pergi tidur, pikirannya berhenti sendiri (tentram sendiri / ketiduran), karena pikiran berhenti (tentram) karena capek mata ngantuk, jadi tidur itu Kodrat, itu bukan tujuan kita.
Semadhi (Shalat tauhid) iti dikerjakan oleh para ahli Ma’rifat (Arifin dan aulia). Semadhi (shalat daim) pekerjaan sebelum tidur untuk menentramkan pikiran (mengendalikan pikiran) dari semangat kemauan, itu bukan pekerjaan yang mudah, sebab shalat tadi untuk menegakan Rohani dengan Roh Jasmani (Rasajati-jawa). Kalau dipewayangan seperti Khrisna Gugah (membangunkan Khrisna), itu sebenarnya menghidupkan Rohani dengan Roh jasmani (Rasajati). Bagi orang yang shalat Syari’at ataupun Ma’rifat puasa itu berguna sekali, karena nafas itu tergantung kebisaaan yang sudah terlatih dan diatus, lama-lama teratur sendiri lebih baik, karena batin tidak ikut-ikut, nafas itu sudah Kodrat.
Semadhi (At’tauhid) itu hanya dikerjakan oleh orang ahli Ma’rifat (Arifin dan Aulia), dan semua pelajaran itu hanya tentang peraturan. Keterangan selanjutnya hanya bisa menerangkan yang tidak bisa dipaksakan. Shalat Ma’rifat atau Semadhi bagi yang ada 2; Mengheningkan cipta dan Mengosongkan cipta;
1. Mengheningkan cipta atau belajar Semadhi (shalat Khusyuk), pekerjaan itu sulit sekali, sebab yang menjalankan harus tidak mengingat apa-apa saja keadaan lahir batin. Caranya ada yang melihat apa-apa yang bisa dilihat, itu hanya untuk melupakan yang dipikirkan.
2. Mengosongkan cipta (mengendalikan pikiran), pekerjaan itu tambah sulit, sebab disitu harus menghilangkan pengalaman indra yang mengingat-ingat Keadaan, disitulah timbul pikiran macam-macam, yaitu pekerjaan pikiran orang hidup, sebab hidup itu mempunyai perasaan. Semua keinginan ikut-ikut bicara (terpikir), harus sedikit demi sedikit dihilangkan melalui membaca zikir terhadap Allah, oleh karena Allah itu tidak bisa dijangkau (Layu Kayafu), maka dalam zikir harus tidak mengingat apa-apa, perbuatan itu mengkhusyukan dengan Dat (Layu Kayafu).
Pekerjaan seterusnya tentang zikir itu umpamanya begini; zikir itu harus mengucapkan lafal bermacam-macam menurut keyakinan sendiri-sendiri, ada yang mengatakan “hidup.. hidup”, ada yang mengatakan “ham.. ham”, zikir itu Napi isbat, yaitu mengucapkan “Laillah haillalah” dan dimengerti benar-baner, artinya tidak ada Tuhan, melainkan Allah (ilallah), maksudnya menetapkan adanya ilallah (isbat). Zikir itu lama-lama tidak tergantung dengan yang mengerjakan, apa perlu dihitung atau tidak, itu sama saja. sesudah mengucapkan lafal tadi berulang kali atau tidak, lalu diteruskan mengucap “ilallah .. ilallah..”, atau mengucapkan musbitnya saja, umpamanya; “Allahu.. Allahu..”, atau “hu.. hu.. hu.. “, seterusnya sampai lelah, lalu tidur. Sarana itu akan mendapat yang diinginkan.
Kerjanya tidak perlu dipaksa, jika dipaksa menjadi bosan, sebab mengejar supaya cepat mengetahui terkabulnya menjalani, dan kekuatan Rohani dan Jasmani. Seperti tersebut mengharap-harap sampai sebulan atau setahun atau sekali seumur hidup, tergantung rahmatnya.
Mengerjakan shalat Ma’rifat atau Semadhi harus tetap menjalankan shalat lima waktu, berdasarkan pasrah dan ikhlas. Sewaktu mau zikir tujuannya harus satu, ingin membuktikan intisari ajaran Tauhid, menyatu (nyuwiji-jawa), maksudnya zikir itu mengingat kata-kata (lafal) tetapi mengingatnya hanya untuk dasar pertama menghilangkan pikiran yang kesana-kesini yang selalu teringat.
Karena tujuan Tauhid hanya untuk membuktikan gaibnya Allah (Layu Kayafu), maka yang penting dengan halnya zikir tadi, harus menyebut nama Allah yang mudah-mudah saja, yang harus mudah dipahami, bahasa Arab atau bahasa apa saja, disitu tujuannya hanya untuk menyatukan menuju Dat Allah ta’allah, yang penting mengosongkan gambaran-gambaran, perasaan yang dikerjakan oleh pikiran tadi.
Suatu perkumpulan kebatinan mempunyai ucapan zikir, itu kalau diteliti memang sudah benar dan mudah. Dan kata-kata hidup tadi karena adanya lafal, asalnya alam seisinya. Kosong artinya adanya hidup yang kuasa, jadi lafalan dikutip dari kata hidup, lalu untuk mengatur nafas keluar masuk. Kata-kata bahasa Arab disebut “hu Allah”, jadi ucapan hu dan Allah.
Karena di Wiridan bahasa jawa menerangkan adanya hidup, kuasa, lalu diucapkan kata “hu” dan “rip”, semua itu tidak menjadi masalah (bebas), yang penting menyatu (At’tauhid) kepada Dat Allah. dan orang mempunyai tujuan nyembah kepada Allah itu tidur, bangun, makan dan kerja harus ingat. Seperti keterangan lagu jawa (sinom) dibawah ini;
Ing dalu kelawan siang = dimalam dan siang hari,
Lan inget sakjerone ati = dan mengingat dalam hati,
Aywo lali Hyang Widi = jangan lupa pada Allah,
Ing siang kelawan daluh = disiang hari dan malam hari,
Ojo nyipto piyambak = jangan menciptakan sendiri-sendiri,
Dingin mangke pribadi = dulu dan sekarang sendiri,
Dunyo ngakhir kelawan yang sukmo = dunia akhirat dengan Allah.
Bersambung………….

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————



PENGALAMAN SHALAT MA’RIFAT (SEMADHI)
By Mas Kumitir
Bab 10
PENGALAMAN SHALAT MA’RIFAT
(SEMADHI)
Karena pokok utama Semadhi (shalat Ma’rifat) hanya untuk menentramkan pikiran (astendriyo-jawa), kalau sudah tentram sementara, dimata seperti tidur-tidur ayam atau pejam mata lalu ada rupa-rupa atau gambaran sepintas lalu tidak terang dan selalu berubah warna, terkadang getaran, ada bayangan-bayangan yang tidak jelas, berarti pikiran belum tentram betul, lalu penglihatan rosojati (roh jasmani) masih belum sempurna.
Gambaran-gambaran tadi semua penglihatan gaib, yang keluar dari badan sendiri, tidak dari mana-mana, dan leadaan itu terpaksa dianggap mengetahui gaib, lalu diterima dengan baik dan dirahasiakan.
Semua itu salah terima, menjadikan tidak benar (kesasar), salah arah. Gambaran-gambaran tadi hanya rekaman pikiran (tabet/warono-jawa) dari kerjanya perasaan (astendriyo-jawa) yang tiga banyaknya;
1. Keinginan;
2. Angan-angan (krentek-jawa);
3. Pikiran.
Di Wiridan pengalaman dan gambaran-gambaran tadi disebut Kijab (tirai pembatas) yang timbul dari kemauan nafsu. Jadi jangan dianggap gaib, sebab itu tadi banyak orang-orang yang cenderung dengan pengalaman tadi, lalu diubah-ubah (kutak-katik-jawa) cocok apa adanya, hasilnya menerima apa adanya.
Keterima (diterimanya) shalat tadi lama, dan pengalaman tadipun lama, dan akan mencapai kepada pengalaman-pengalaman yang sangat berbeda dengan pengalaman-pengalaman yang diatas, pengalamannya rasanya sendiri yang menakut-nakuti (jumpa katak membawa senjata, kelabang, ular sebesar bantal dan lain-lain).
Jalannya pengalaman-pengalaman tadi begini : badan seluruh tubuh merasa ada semut berjalan, wajah merah semacam digigit semut, dan tubuh kita seperti ada ular berjalan, diperasaan seperti akan kita garuk (kukur-jawa), dipunggung terasa geli, dan tubuh seolah-olah akan terbang, dikepala pusing seperti mau pecah, ada suara seperti petir, kebanyakan orang takut langsung dibatalkan niatnya, karena seperti benar-benar ada, lalu langsung takut, lain waktu dicoba lagi. Ada pengalaman-pengalaman lagi yang sangat menakutkan; umpamanya ada ular keluar dari ibu jari, langsung naik keatas menaiki perut, langsung ketenggorokan (leher), naik lagi keatas seperti mau menelan kepala kita, semua itu seperti benar-benar ada, karena jiwanya lemah langsung batal dan bangun.
Semua yang menakut-nakuti para yang mengerjakan shalat Ma’rifat, jika sendirian lalu bangun, lari dan pingsan, jika kurang waspada bisa mati. Jika bisa lulus bisa disebut bisa membuka tirainya (Warono-jawa), dan tidak tidur, tidak terjaga, tidak lupa dan tidak ingat, itu baru disebut Ma’rifatnya Hakikat (belum Ma’rifatnya Ma’rifat / At’tauhid). Biasanya melihat cahaya terang tanpa batas, hanya sekejap mata seperti kilat, bahasa Wirid disebut Samudra Luas (Alam laut). Jadi disitu pengalaman Hakikat meninggalkan dalam keadaan tidak merasakan apa-apa; karena itu pengalaman sebenarnya belum bisa apa-apa, terkabulnya harus menghilangkan perasaan, dan harus merasakan aku sudah At’tauhid (nunggal sawiji-jawa) tingkatan Ma’rifat.
Selanjutnya seperti apa keadaan gambaran-gambaran Ma’rifatnya Hakikat itu; keadaannya beda yang menjalani beda pula alamnya, jadi jika digambarkan sama dengan orang tidak pernah merokok ditanya rasanya, tentu tidak bisa dijelaskan rasanya, Jadi yang mengetahui yang menjalani (situkang merokok).
Pengalaman selanjutnya akan diterangkan keadaannya berdasarkan pengalaman pada Dalil dan Hadist :
1. Di pedalangan ada kata-kata; mencari ilmu harus di wejang bagi Bharata Sena dengan Dewa Ruci, setelah Bharata Sena menerima ilmunya Dewa Ruci, Bharata Sena langsung senang sekali (Katrem jiwanya-jawa), di alam perjumpaan dengan Dewa Ruci.
2. Dalil dan Hadist menceritakan perjumpaannya Nabi Musa as. dengan Nabi Khaidir, Nabi Musa menerima wejangan-wejangan dari Nabi Khaidir, tetapi sebelum tamat, Nabi Musa sangat ingin bertanya ingin menegetahui semuanya rahasia itu. Sebelumnya Nabi Musa sudah dijanji tidak boleh bertanya apa-apa selama diwejang, contoh itu nyata disebut 1 dan 2, keterangannya selanjutnya berdasarkan Al-Qur’an Nul Qarim, Al-hadist, buku-buku pedalangan suluk Dewa Ruci. Firman Allah Qur’an surat Al-Kahfi : 65 ;
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, yang telah Allah berikan kepadanya rahmat dari sisi Allah, dan yang telah Allah ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Allah”
Pengalaman-pengalaman yang akan jumpa di Dalil dan Hadist, keterangannya di Nomor 1 seperti diatas. Pokoknya shalat Tauhid, shalat Ma’rifat (Semadhi) membangunkan jiwa yang hidup memakai alat Roh Jasmani (rosojati-jawa), pekerjaan itu bisa dikerjakan sembarang orang tidak melihat apa ilmunya (gebengannya-jawa), yang penting bisa menentramkan pikirannya (astendriyo-sansekerta), berhentinya pikiran (astendriyo) mengadakan suara dan pengalaman macam-macam yang sebagian besar jalannya darah (tali rasa – jawa), umpama jalannya darah bisa teratur, astendriyo bisa berhenti (lerem-jawa), lalu bisa mengetahui apa-apa tanpa mata. Sesudahnya mengalami macam-macam tanpa mata, berhentinya pikiran, lalu terdorong oleh berdirinya (jumeneng-jawa) Roh (jiwa) yang hidup memakai Roh jasmani (rosojati-jawa). Dan rosojati (Rohani) itu melihat dengan terang, tidak bisa ditipu dengan kemauan Panca indra (nafsu). Jadi rosojati (Rohani) yang bisa melihat terhadap alam gaib tanpa memakai alat apa-apa. Karena yang mengerjakan masih segar bugar, seluruh pengalaman masih bisa diingat dan ditafsir, dan shalat Ma’rifatnya sudah selesai.
Menyimpan pengalaman-pengalaman membangun Roh hidup seperti disebut diatas, lalu ada pengalaman lagi yang menarik pikiran menjadi tenang dialam itu, yaitu penglihatan rosojati (Rohani) mengetahui jiwanya sendiri dikata-kata ilmuwan (Wedaran wirid), mengetahui diri sendiri atau bayangan putih (mayang goseto-jawa) seperti cerita Dewa Ruci selagi Brata Sena menjumpai Dewa Ruci ditangah samudra (alam luas), dan warna saudara sendiri (Roh Jasmani) ditafsirkan putih bersih, ada lagi ada tandanya aksara Alif dikeningnya, warna-warna tadi jernih dan keruhnya seperti keadaan diperut.
Karena warnanya seperti yang melaksanakan shalat Ma’rifat (semadhi), di pedalangan Dewa Ruci kecil, kerdil dan brata Sena tinggi besar seperti raksasa. Dialam perjumpaan merasa diwejang (diberi petunjuk) macam-macam. Jadi pasti ada seperti menyerupai dirinya, lalu tidak mau balik; terpukau senang dan betah (kerasan/katrem-jawa), disitulah adiguna (kekuatan) seperti kekebalan, dukun, pawang, hipnotis dan kekuatan-kekuatan gaib lainnya, tinggal memilih apa-apa yang dikehendaki, semua itu sebenarnya bukan tujuan utama menimbah ilmu Allah yang disebut Innalillahi wa innaillaihi rajiun (asal mula nira-jawa). Tetapi pengalaman-pengalaman itu semua penghalang, sama dengan kalau kita menghitung angka 10 (sepuluh) pasti melalui angka 4,5,6,7 dan sebagainya.
Jadi umpama terpikat dengan pengalaman-pengalaman tadi (tujuan utama) atau membuktikan At’tauhid dan hambatan-hambatan yang berbahaya bisa menyebabkan balik arah. Dewa Ruci mengatakan; bila Brata Sena memang benar menghendaki diam disitu, sebab alam itu jauh dari sakit, susah, dingin dan panas, tentram nikmat seperti disurga. Kebaikan Dewa Ruci (guru yang benar) melarang Brata Sena untuk tinggal disitu, karena Brata Sena masih mempunyai keinginan, jadi Brata Sena belum sempurna (belum Innalillahi wa innaillaihi rajiun), karena Brata Sena masih dibebani keduniaan.
Para Ahli Ma’rifat (semadhi) tadi yang masih mempunyai keinginan tidak bisa At’tauhid (nyuwiji-jawa).
Pengalaman-pengalaman tadi hanya bunga-bunga yang menuju yang satu (Allah), pasti harus kita lalui sebagai percobaan kuat atau tidak. Kalau kuat menghalau godaan-godaan lahiriah, maka bisa lulus ke Innalillahi wa innaillaihi rajiun (pulang keasalnya/Islam).
Diketerangan-keterangan ini ada 2;
1. mengetahui pada keterangan-keterangan tadi bisa menambah kekuatan menuju Islamu (Islam sejati), dan menjadi terbukanya pikiran (astendriyo-jawa) semakin terang jalannya menuju menyatunya hamba Allah, dan menambah kekuatan menuju kepada Dat Wajib Adanya.
2. Mengetahui tentang rahasia-rahasia diatas untuk menjaga jangan sampai lupa menyembah kepada Allah, jangan balik arah menuruti kemauan nafsu.
Selanjutnya membicarakan tentang ayat suci diatas, Qur’an surat Al-Kahfi : 65 ;
Kata Hamba itu artinya umatnya Allah, seperti Malaikat, Syetan, Jin, Manusia, Binatang dan sebagainya, seperti yang tidak nampak oleh mata disebut Molekul-molekul (atom, oxygen dll) , walaupun roh itu ciptaannya Allah juga. Astendriya (pikiran) itu umatnya manusia (alatnya manusia). ayat-ayat tadi jika diteliti dengan pengalaman-pengalaman cahaya terang benderang (bayangan putih bersih) yang luhur tadi bukan orang, tetapi Dewa Ruci terhadap Brata Sena (cerita pedalangan) atau saudara sendiri yang luhur dan cerdik, yang nampak didalam semadhi (tauhid), makhluk gaib-gaib ciptaan Allah, jadi hidup seperti diri kita sendiri, kita jumpai seperti Malaikat dan Rasajati (Rohani). Maka yang mengajarkan seperti Dewa Ruci di Pedalangan, yaitu Nabi Khaidir dan Nabi Musa as. terhadap junjungan kita Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril, jadi kata-kata Nabi itu supaya mudah menerangkan tentang ilmu tadi. Di surat Suluk dan Wirid Brata Sena dan Nabi Musa jumpa di samudra luas, kata samudra; terang bendarang seperti samudra tanpa batas.
Di surat Wirid atau Suluk pasti ada cerita tentang Sunan Kali Jaga yang bertapa ditepi samudra (Syeh Malaya), Syeh Malaya juga ditepi samudra, itu hampir sama. Kata samudra adalah alam yang bebas yang tidak bisa dilihat (tanpa batas).
Pengarang buku-buku Suluk dan Wirid, semua menceritakan pengalaman-pengalaman tentang shalatnya sendiri (shalat Ma’rifat), pasti semua ditengah-tengah samudra, karena sudah ada yang mengaturnya (Allah SWT), seperti disebut di kitab Al-Qur’an surat Al-Kahfi : 65; artinya shalat Tauhid (Ma’rifat) yang seperti apa saja pasti melalui alam terang benderang (alam tanpa batas). Kutipan dari buku Suluk Syeh Malaya dan sama jumpanya Sunan Kali Jaga sewaktu diwejang oleh bayangan putih; “sang pandita cepat jalannya, ditempat Bonang padepokan, ternyata cepat-cepat, sudah sampai dipesisir samudra, jalannya Syeh Malaya (Sunan Kali Jaga) tujuannya naik haji ke Mekah, jalannya salah arah, terkadang samudra sangat jauh, jauh sekali tanpa batas, tercengang seketika, ditepi samudra, ternyata tadi yang datang, yang menguasai Jagad raya (tidak tahu arahnya)”; itu jalannya yang ditunjukkan (digambarkan dipedalangan) sewaktu Brata Sena menempuh hutan belantara banyak perampok (diantara banyak perampok), Brata Sena bukan ibarat Jasmani, tetapi ibarat batin (hati), tekad (semangat).
Setelah naik setingkat dengan cara Tauhid (Semadhi), langsung jumpa dan terbuka apa yang menghalangai godaan sendiri, seperti hawa nafsu yang berbekas di indra (pikiran), karena semua sudah terbuka dengan cara shalat Ma’rifat (semadhi) lalu melihat cahaya yang sangat terang yang tidak pernah dilihat didunia ini, luas seperti samudra yang tidak ada batasnya (tetapi tidak merasakan apa-apa).
Selanjutnya begini, Qur’an surat seperti yang diatas yang ingin mengetahui; “Syeh Malaya sedih, ingin tahu Hidayat (petunjuk, taufik, anugerah), tanpa tempat tanpa nama, jiwa menjiwai, tersimpan, kapan jumpanya, kalau tidak dapat anugerah baik, kecuali dapat ijin Yang Maha Kuasa, ternyata Sunan Kali Jaga ditengah samudra jumpa, masih tenang saja, ucapan Nabi Kilir, ayat Qur’an dan Hadist mengatakan nama tadi, datang tanpa tujuan, berkata pelan-pelan”, syair tadi tembang jawa, asalnya dari para sarjana yang sudah mencapai Hakikat (Ma’rifatnya Hakikat).
Selanjutnya Wiridan tadi; Syeh Malaya (Sunan Kali Jaga); ada apa pekerjaanmu, datang kemari, apa tujuanmu, kemari ditempat sepi, tidak ada yang indah, dan tidak ada yang dimakan, tidak ada pakaian, meliputi Jagad raya pelan-pelan berbicara, batas disini ini, banyak bahayanya, kalau tidak mengadu nyawa, pasti tidak sampai disini, disini sepi semuanya (sunyi senyap), jadi dikatakan panca baya (lima bahaya), itu tujuan bagi kasunyatan (kenyataan), bahwa sudah dapat dari guru, supaya dapat membuktikan shalat tauhidnya (semadhi), tetapi jika tidak waspada dan sentosa jasmaninya mengakibatkan kematian.
Selanjutnya dandang gula (arum manik-jawa); cepat datang kemari dengan Syeh Malaya, menyatu dibadanku, Syeh Malaya semakin menghadap dan tertawa, tidak menangis; katanya pelan-pelan, dengan bayangan paduk kecil (Dewa Ruci dan Brata Sena), kami tinggi besar, tubuh kuat perkasa, dari mana jalannya saya masuk, jari kelingking apa muat, Nabi Kilir berkata pelan-pelan; besar mana dunia seisinya dengan gunung, samudra dan dasarnya, tidak sempit untuk masuk, didalam gambaranku, Syeh Malaya mendengar, lebih takut mengatakan, kepada yang menguasai Jagad Raya, intisarinya perjumpaan bayangan dengan yang shalat Ma’rifat (semadhi) dan yang membuktikan itu si Hati, karena pengalaman tadi masih pengalaman Hakikat, sebenarnya para ahli Yogi, Nabi, Wali, Mukmin, dan siapa saja masih memakai bayangan-bayangan, pasti mempunyai perasaan, artinya belum menyatu (nyuwiji-jawa/At’tauhid-Arab).
Jadi arti keterangan diatas, artinya pada waktu itu, walaupun Wali masih sangsi-sangsi, buktinya bertanya, bagi yang diwejang dan yang memberi wejang itu dalam diri sendiri; ketika ada anak kambing (lontang-jawa) terengah-engah mencari Roh yang mulia menyatu orang Hakikat (diibaratkan/pasemon-jawa).
Jadi pengalaman yang gawat dan rumit itu pada hakikatnya karena mencari Datnya Allah melalui bayangan putih (penghalang/simpang empat);
A. Pengalaman Nabi Musa as. jumpa dengan Nabi Khadir di samudra, Nabi Khaidir menjadi pembicaraan sekitar tahun 1378 H, Al-Hadist Bukhari no.6 Bab. Pembicaraan para sahabat-sahabat sewaktu membicarakan perjumpaannya Nabi Musa dengan Nabi Khaidir, Hadist membicarakan para sahabat-sahabat tadi hanya mendengarkan pembicaraan Nabi Muhammad SAW saja. Ternyata kejadian sewaktu Nabi Musa as. masih hidup, beberapa ribu tahun sampai sekarang, kalau tahun Hijriah di tambah zaman Nabi Musa as., maka menjadi pembicaraan Nabi Khaidir jumpa dengan Nabi Musa as. yang dibicarakan dalam Hadist oleh Nabi Muhammad lebih kurang dikatakan :
Ibnu Abas menceritakan tentang tafsiran Hurr Bin Qais, siapa kawan Nabi Musa as. sewaktu jumpanya, Ubay cerita dengan Ibnu Abas dikatakan : kawan Nabu Musa itu memang ada dan saya mendapat keterangan dari Rasullullah. Pada suatu hari Nabi Musa as. berkumpul dengan orang-orang Israel, lalu ada orang laki-laki bertanya kepada Nabi Musa as., Nabi Musa apa mengetahui orang yang lebih pintar dari padaku, Nabi Musa menjawab ; “ tidak”, seketika Allah memberi wahyu terhadap Nabi Musa as., orang lebih pintar yaitu hamba Khaidir, Dalil Al-Qur’an surat Al-Kahfi : 65 ; seperti diatas, cerita itu cocok sama dengan perjalanan Sunan Kali Jaga sewaktu jumpa disamudra (alam tanpa batas). Apa yang terpenting wejangan Nabi Khaidir terhadap Nabi Musa as.?, wejangan-wejangan yang diterima Nabi Musa terhadap Nabi Khaidir?, kalau dicocokan perjalanan Syah Malaya (sunan Kalli Jaga) dan Nabi Kilir, dan Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril, tidak beda sama orang yang kebetulan jumpa dengan saudara sendiri.
Diceritakan Dalil dan Hadist; bila Nabu Musa tidak kuat menerima wejangan-wejangan Nabi Khaidir terbukti selalu bertanya walaupun tidak di ijinkan bertanya sewaktu menerima wejangan, sewaktu jumpa tadi tidak seperti biasanya, tidak bisa diterima akal pikiran, Nabi Musa selalu bertanya, itu menjadi tanda bahwa Nabi Musa masih tingkat Hakikatullah (belum Ma’rifat), bisa disebut masih merasakan (pangrasa-jawa), karena perasaan sama dengan hati, walaupun sebenarnya Hakikat itu tidak merasakan apa-apa, tetapi merasakan itu yang menerima adalah hati.
Dalam cerita umumnya,; Nabi Khaidir sewaktu mendayuh perahu yang dinaiki keduanya, Nabi Musa as. tercengang dan tanda tanya, yang membingungkan perjalanan sewaktu Nabi khaidir membunuh anak kecil, menurut hukum belum mempunyai dosa. Selanjutnya Nabi Musa bertanya dan Nabi Musa tidak tahan menerima maksudnya, kejadian tadi itu tidak berbeda dengan perjalanannya Brata Sena, Syeh Malaya di surat Suluk. Nabi Khaidir membunuh anak kecil, jika diukur berdasarkan hukum agama, sipil, militer, internasional, ternyata tidak ada seperti itu dan pasti dihukum, akan tetapi karena hamba Allah Yang Maha Mengetahui itu memiliki Rasajati (rohani), Yang Maha Mengetahui dan juga mengetahui segala kejadian yang udah dan sebelumnya, itu tergantung yang menjalankan shalat tauhid (semadhi) dan diwejang Nabi Musa as sendiri, jika anak kecil tadi tidak dibunuh sekarang, nantinya akan menjadi penghalang kebaikan, itu salah satu wejangan atau sumpah, artinya waspada bagi orang yang mempunyai ilmu, jadi yang menerima pesan (wangsit-jawa) tadi Batin (Qalbu-Arab), jadi batin yang akan mencari.
Siapa saja yang mempunyai kewaspadaan (Sidiq-Arab) mengetahui sebelum terjadi, tanda-tanda menerima rasajatinya atau kalbunya, dan artinya oleh karena rasajati sama dengan bayangan sendiri yang nampak, siapa saja bisa meminta atau menyuruh bayangan tadi.
Pengalaman tadi yang bisa menghanyutkan tujuan semula (seperti alat bantu / perewangan-jawa), jadi anak kecil tadi adalah perewangan atau makhluk yang membantu kita, itulah sebabnya harus dibunuh (disingkirkan).
Di suruh membunuh anak kecil, sama dengan cerita Ramayana; Prabu Rama membunuh Subali (raksasa), umpama jika Subali tidak dibunuh, di masa depan menjadi perusak dunia. Sama dengan bayangan sendiri (bayangan putih), jadi keterangan diatas kalau dikerjakan pasti mengherankan, karena tidak umum bagi yang mempunyai keluarga (mempunyai anak).
Kebanyakan ahli Ma’rifat sudah mengetahui sebelum terjadi, karena mempunyai pikiran luhur dan suci, apa ayang mau dikerjakan disamakan dengan keadaan, tetapi tidak mau mendahului kehendak Allah, semua yang akan dikerjakan itu milik Allah, sama dengan “ya Allah ya Aku”.
Dengan keadilan Allah; Allah memberi anugerah tidak main-main, dibunia tidak ada ukurannya. Semua bisa dimiliki, umpama orang sudah bisa menyingkirkan penghalang (warono,kijab kawulo lan Allah-jawa); perjalanan itu bagi Nabi Muhammad disebut Jibril, pada suatu hari Malaikat Jibril menampakan diri pada Nabi Muhammad, serta berbicara; “hai Muhammad, pilih mana, keluhuran atau kekayaan?”, karena Nabi Muhammad waspada (waskita-jawa), pembicaraan Jibril langsung ditolak, tujuan Nabi Muhammad tetap satu, yaitu Innalillahi wa innaillaihi rajiun (Islam yang sempurna); asal dari Allah kembali (pulang) ke Allah.
Karena yang nyata tujuannya dan ilmu At’tauhid (nyuwiji-jawa), jadi ilmu itu amalannya menyatu dengan Dat Allah sampai kenyataan adanya Layu Kayafu (tidak bisa dijangkau, menyaksikan, mengetahui dan melihat).
Didalam shalat Tauhid, bagian-bagian keterangan diatas hanya satu tingkat saja yang dijalankan, apa bisa menyatu dengan keadaan Dat yang tidak bisa dijangkau (layu kayafu) ataupun Tari’kat dengan kekuatan gaib itu tergantung yang mengerjakan.
Selanjutnya menerangkan rahasia ayat suci Al-Qur’an Al-Araf : 29 ;
Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.” Dan (katakanlah):
“Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya).”
Jangan sampai membicarakan yang tidak berdasarkan Dalil ataupun pikiran yang jernih, mudah-mudahan nanti memiliki pengetahuan tentang rahasia yang bertahun-tahun masih dirahasiakan :
1. Sembahlah Allah; sembah itu menuju hamba dan Allah melalui Ma’rifat dan yang bisa membuktikan hanya yang menjalani sendiri. Jadi umpama dihitung menyembah berdasarkan tingkatan tadi hanya At’tauhid (Ma’rifat) dan menyatunya hamba dan Allah, terang-terangan saja tidak bisa ditulis atau dijelaskan, dan penyembah tingkat Sa’riat, Ta’rikat, Hakikat itu hanya jalan menuju Ma’rifat (Islam).
2. Dengan mengikhlaskan agama kepada Allah, kata Ikhlas itu menyatakan bekerjanya Dat dan keadaan Dat. bekerjanya dat bisa berpikir, nafsu, berusaha hanya menjalani, bisa dikatakan tidak ikut memiliki. Jelasnya memberi kepada orang lain sekedar ikut geraknya Dat (Allah) Yang Maha Pengasih, karena Allah itu sifatnya Maha Pengasih, maka manusia memiliki watak asih. Sifat sayang itu cahayanya sifat Dat yang wajib. Dat yang wajib, dia menampakan sifat Kasih melalui orang, dan orang bersedekah kepada sesamanya. Jadi Ikhlasnya menyembah yang benar itu tidak mempunyai tujuan iri hati, keinginan-keinginan yang melalui tujuan itu sudah hilang, karena Ikhlas bagi agama apa saja bisa tercapai.
3. Sebenarnya Allah memulai kejadianmu; pertama bila diukur ukuran dunia, ialah bayi yang dilahirkan. Intisari perkataan pertama terjadinya bayi lahir itu tidak mengetahui apa-apa (tidak merasakan apa-apa) tetapi hidup. Sebenarnya bayi lahir iti contoh Dat yang tidak bisa dijangkau atau keadaan Kosong (suwung-jawa), yang bisa membuktikan orang hidup contohnya seperti bayi yang baru lahir tidak mengetahui apa-apa. Seharusnya ada yang tanya, kenapa tidak bisa begitu lagi, kalau ingin seperti itu lagi harus pakai ilmu, oleh karena orang sudah ditutupi pembatas (nafsu, warono). Bayi lahir tidak mempunyai nafsu.
4. Begitu kamu kembali kepadaku; itu ayat untuk mengatakan, artinya contoh bayi lahir dalam keadaan Ma’rifat. Sebenarnya itu contoh merasakan lahir sama dengan rasanya orang Ma’rifat, begitulah nanti kalau pulang ke Allah (Innalillahi wa innaillaihi rajiun), rasanya seperti sewaktu dilahirkan kedunia, yaitu yang disebut kekal (abadi), Baqa (nirwana-Budha), alamnya Dat kembali keasalnya sebelum ada apa-apa.
Dan ada pertanyaan; jadi yang disembah tidak ada apa-apa, tidak nampak, tidak bisa dilihat, salah jawaban bisa salah arah, kalau memberi keterangan hanya berdasarkan pendapat orang tua-tua dahulu, sebenarnya akal dan pikiran harus meneliti kata-kata (saya tidak mengetahui atau tidak bisa membayangkan), karena sudah ada Dalilnya kalau kamu ingin menghadap Allah harus seperti bayi lahir yang tidak tahu apa-apa, tetapi bayi itu tetap hidup. Yang hidup nanti, jika sesudah dewasa yang menyabut-Nya, tetapi kalau menyembah kosong (suwung) diatas sudah diterangkan. Dat yang tidak nampak (Layu Kayafu) tidak bisa dijangkau oleh apapun walau tidak nampak, tetapi bisa menciptakan Jagad raya (alam semesta) dan seisinya, jika berkata Qun Fayakun; terjadi semuanya.
Keterangan yang bersangkutan dengan ilmunya Syeh Siti jenar, berani menyatakan “Allah itu Aku”. Karena Dat yang tidak bisa dijangkau (layu kayafu) sama dengan tidak tahu, bisa jadi para Wali di tanah Jawa benci semua terhadap Syeh Siti Jenar, karena Ikhtikat mengaku Allah, Syeh Siti Jenar; yang penting dianggap unggul. Syeh Siti Jenar mengaku “Aku tidak Tahu”, karena memang Allah itu tidak bisa dilihat oleh alat apapun”, keterangannya begini; bisa jadi Syeh Siti Jenar sudah memahami atau yakin benar terhadap rahasia Al-Qur’an surat Al-Araaf : 29; mengatakan dat Allah tidak bisa diketahui atau tidak ada untuk ukuran dunia, itu memang benar, artinya mata tidak bisa melihat, tetapi ukuran perasaan (Qalbu) harus mencari.
Menurut surat tersebut diatas; umat-umat itu kalau mengetahui lahir didunia itu tidak tahu apa-apa, yang bisa membuktikan hanya para Ma’rifatullah, kira-kira zaman dahulu Syeh Siti Jenar, walaupun menjadi Wali, ternyata masih mempunyai sifat lupa, kata lupa itu tidak salah sangka, hanya waktu tidak ingat. Syeh Siti Jenar mengatakan; “Dat yang tidak nampak tetapi kuasa (wenang-jawa)”. Sebahagian orang mengatakan “Allah itu aku”, karena rambut sampai putih semua, badan sudah bungkuk, mencari Dat pasti tidak jumpa, karena tidak bisa dijangkau (layu kayafu).
a. Shalat lima waktu puji zikir, pasta tyas karsanya pribadia, bener luput tanpa dewa, sadar panggung tertamtu, badan alus munakarti, ngendi ana yang sukma, kejaba mung ingsun, ngider daya cakrawala, luhur langit sapto bumi durung manggih, wujud Dat kang mulya.
b. Syeh Siti bang menganggep Hyang Widi, wujud kang kasat mata, sarupa kadia dewa, ing sipat wujud, lir wewujud baleger tan kala, warnanya tanpa ceda, mulus alus lurus kang nyata tan wujud dora, lirnya kidam dihin jumeneng tan keri, sangking pribadi nira.
Pengarang surat (buku) Syeh Siti Jenar tadi pasti orang yang masih tingkat Hakikat, atau masih belajar, bukan ahli Ma’rifat, karena berani mengatakan benar salah tidak sendiri, itu orang yakin benar bila kekuasaan Dat itu berada padaku, dan kalian semua, yang menyatakan dan membenarkan diri sendiri, pengarangnya sudah bisa mengoreksi diri sendiri.
Kata “badan halus munakarti”, artinya kepercayaan berubah-ubah, itu dikendalikan oleh badan halus bergerak sendiri (Qiyamuh Binafsihi). Orang yang kurang paham, badan halus yang bisa menggerakkan dianggap keinginan, pikiran, kemauan, jadi Allah dianggap kemauan pikiran atau keinginan, dan dimana ada Allah kecuali ingsun (aku) pasti benar karena Allah tidak nampak, tidak bisa dijangkau (tan kena kinaya ngapa-jawa). maka pengarang itu menyatakan jiwa itu sama dengan aku (ingsun-jawa).
Keterangan sifat 20; orang itu yang memiliki Dat, jadi jiwa kalau disamakan aku (ingsun-jawa), itu benar. Karena orang mempunyai bayangan Dat, sifat 20, jadi aku itu bukan Allah, tetapi hanya bayangan saja. Walaupun sama tetapi tidak mempunyai sifat kuasa (wenang-jawa), tidak bisa menciptakan apa-apa.
Keterangan tembang dendang Gula tadi; kesalahan terletak pada kata aku sama dengan Allah, maka ada kata; “sapta bumi belum jumpa bentuknya Dat yang mulia”, pengarang buku Syeh siti Jenar mengakui; wujudnya ingsun (aku) tidak pernah jumpa (dilihat), tetapi batinnya mengakui ada, yaitu Dat yang mulia.
Selanjutnya wujud yang tidak terlihat oleh mata kepala, itu benar, sama dengan dia. Kalau salah tafsir lalu mengakui pengalaman Mayangga Seta (bayangan putih) Allah. sebenarnya sama dengan dia itu Dat sifat, Widhatul Wujud (menyatu dengan sifat-Nya) atau Kata-kata satu tidak dua, itu benar, tujuan pengarang; widhatul wujud, mengartikan hamba dan Allah itu satu. Pendek kata secara singkat Bak atau kolam yang berisi air, lalu ada bayangan matahari didalam air (lihat Bab 3). Dan yang dikatakan wujud (ada) tetapi tidak bisa dilihat, tetapi ada (wujud).
Jadi pengarang buku Syeh Siti Jenar itu tidak mau mengakui kata Siti Jenar, lalu tidak sependapat. Jadi Syeh Siti Jenar benar, karena kita lahir tidak tahu apa-apa (dalilnya Allah). rasa mneyatu (At’tauhid) yaitu sewaktu kamu Innalillahi wa Innaillaihi rajiun, sama dengan sewaktu kamu dilahirkan kedunia tidak mengetahui apa-apa. Kalau mau membuktikan Islam lah (Ma’rifat). Kalau keterangan itu kurang jelas, jadi ilmu itu kalau sudah merasakan tidak tahu, semua itu harus dibuktikan melalui keyakinan dan shalat Khusyuk.
B. Cerita Nabi Musa as. jumpa dengan Dat Allah, nyata atau tidak ?. Nabi Musa as itu tidak pernah menduakan Allah, walaupun Nabi-Nabi; Daud, Yusuf, Ibrahim, Isa dan Nabi Muhammad SAW, sebenarnya sama-sama mencapai Islam, akan tetapi cara lahirnya; ajaran-ajaran yang disebarkan (agama) yang berbeda-beda:
Al-Qur’an surat Al-Araaf : 29 dan 143;
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
Benar dan salahnya harus dipikirkan secara jernih, rahasianya ayat-ayat Qur’an itu kalau kurang berpikir dan kurang pengalaman bisa menjadi salah terima (mengartikan). Bagaimana kalau diteliti secara lahir dan batin (positif dan negatif) Nabi Musa as. menurut ayat mengatakan secara jujur, mengakui tidak pernah melihat Dat Allah.
Para Nabi, terutama Nabi Musa as. dikatakan umumnya dikatakan umumnya (tidak tahu), dan mengakui tidak mengetahui benar tentang Allah. jadi Para Nabi dan para Wali Allah zaman dahulu tidak pernah mengetahui Allah. kata melihat ternyata diayat-ayat tadi, bukannya melihat dengan mata, tetapi melihat secara Ma’rifatullah. Dan kata gunung; kata ilmu disebut Jabal (arab), dikitab Injil disebut Gunung Tursina. Umpama diteliti dengan pikiran yang jernih pasti tidak masuk akal, karana rahasia ayat tadi diumpamakan; gunung itu orang atau sebahagian badannya, seperti Gunung (hidung), kenapa langsung mengatakan Hidung?, orang didunia memang melihat gunung asli (benar-benar gunung), jawabnya pertanyaan itu terdapat pada ayat diatas; “kalau gunung itu tetap ditempatnya baru bisa melihatku”. Rahasia Hidung itu kalau bergerak-gerak pasti tidak diam, maka Allah mengawasi tetap ditempat, jadi kalau orang zikir goyang-goyang kepala, pekerjaan itu tidak boleh, harus tenang ditempatnya, harus Khusyuk, Semadhi, Tauhid. Oleh karena itu lalu dinyatakan pada zaman dahulu sudah ada shalat Tauhid, shalat Khusyuk (nyuwiji-jawa), jadi zikir (tasbih) itu harus tenang, jangan goyang-goyang, tenang itu supaya bisa Khusyuk, dan cepat mendapat petunjuk Allah.
Selanjutnya Nabi Musa as. bisa melihat Dat Allah, sulit dan membingungkan, kata ayat; “Cahaya Tuhan nampak, Gunung langsung pecah, Musa jatuh kebumi dan pingsan”, keterangannya begini;
1. Gunung Cahaya Dat, mengalami Hakikatnya Dat tidak ada apa-apa (kosong), Layu Kayafu, keadaan tidak sadar;
2. Gunung pecah; hidung tidak nampak bayangannya, karena yang mengalami sudah pingsan, maka kata pecah; tidak bisa melihat;
3. Nabi Musa pingsan; keadaan Ma’rifat (menyatu dengan-Nya), lalu disebut pingsan, tidak merasakan apa-apa;
4. Nabi Musa langsunng bertanya; dan taubat kepada Tuhan dan sangat yakin bila Dat Allag\h memang tidak nampak dan tidak bisa diketahui (tidak tahu).
Gaibnya alam semesta; Nabi Musa as. percaya betul atau yakin benar bahwa yang disembah tidak nampak, tetapi bisa menciptakan semua yang ada dialam raya dengan perkataan Qun Fayakun : terjadi semuanya.
Shalat Ma’rifat (Shalat Khusyuk) bisa dialami siapa saja, pertama harus mengalami pingsan dahulu (tidak sadar), dan selanjutnya umpama sudah bisa mengalami ma’rifat tetapi sampai Innalillahi wa Innaillaihi rajiun (pulang keasalnya menghadap Allah) pasti mengalami, rasanya seperti mengalami bayi lahir didunia (tidak tahu apa-apa).
Gaibnya bisa dialami sewaktu masih hidup (lihat Bab 1, 5 dan 6). Pada waktu itu Nabi Musa as. tidak disertai Nabi Khadir, karena Nabi Khaidir pada waktu itu Nabi Musa masih mengalami tingkat Hakikat (cahaya terang), Sedang Nabi Musa as. meningkat ke tingkat Ma’rifat, melewati tingkat Hakikat, telah meningkat.
Shalat Ma’rifat itu apa pakai doa (japa mantra-jawa)?.
Al-Qur’an surat As-Syuaara : 192 – 195 ;
192. Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
193. dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),
194. ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
195. dengan bahasa Arab yang jelas.
Al-Qur’an surat Al-Fhaatir : 22
“dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar”
Buku Azhari Khudi, karangan pujangga bangsa Persia, nama Dr. Muhammad Iqbal (tahun 1876 – 1938), yang dilahirkan di Lahore (india), Tahun 1915 disalin kedalam bahasa inggris dengan Renold A Necholson. Isinya sudah digenari para sarjana Islam didunia barat, sebab mempunyai bentuk syair, yang isinya menuju tidak mengatakan diri sendiri dan dihimpun dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan pengarangnya bangsa Arab, dan isinya mengarah ke Islami, walau bahasanya bukan bahasa Arab, itu menjadi pedoman, lain bahasa tetapi artinya sama. Umpama bahasa Jerman, tetapi hatinya (pikiran) kalau mengkhusyukan pikiran tetap sama.
Kenyataan bangsa Jerman ada yang menyatakan (membuktikan) Allah melalui semadhi (Tauhid), untuk membuktikan adanya Allah (God-inggris). Dan begitu bahasa Arab ditulis di kitab Qur’an Nul Qarim, itu hanya untuk pusat ilmu yang dianut oleh seluruh bangsa didunia.
Ada semacam golongan Islam yang sembahyangnya (shalat), walaupun tetap lima waktu dan tujuh belas reka’at, sehari semalam, tetapi mengucapkan melalui bahasa Jawa, umpama begitu apa orang tadi bisa diterima dengan Allah?.
Al-Qur’an surat Al-Hadid : 6;
“Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
Jadi menurut Dalil itu, bahwa Allah tidak pernah membeda-bedakan bahasa, yang penting tujuannya, karena semua ciptaannya atau bahasa itu untuk mengutarakan angan-angan (maksud). Sewaktu bahasa Arab belum ada, apa Allah bersabda melalui bahasa Arab ?, pasti menurut bahasa orang yang diberi wahyu, karena yang penting terhadap mereka bukan bahasanya tetapi hatinya.
Jadi ternyata artinya ayat Al-Qur’an surat Asy-Syuaara : 192 – 195;
1. Hatimu hatiku, yang mengetahui adalah orang yang mempunyai bahasanya masing-masing, umpama jawa; maka bahasa jawa, orang inggris ya bahasa inggris. Umpama orang baru tidur, lalu mimpi, walaupun ahli bahasa inggris, mimpinya pasti memakai bahasa sendiri, kalau orang jawa, tetap bahasa jawa.
2. Hatimu dan hatiku, untuk berpikir apa saja pasti pakai bahasa sendiri, kalau berpikir memakai bahasa orang lain pasti banyak salahnya. Oleh karena Allah bersama kita, manusia pasti tahu batinnya, walaupun memakai bahasa apa saja. Walaupun bayangan putih diterima oleh saudara sendiri (mayangga seta-jawa) itu pasti memakai bahasa yang mengalami. Melihat bayangan putih; karena wahyu itu yang memberi saudara sendiri (dulure dewe-jawa). Karena Nabi Muhammad mendapat wahyu melalui Malaikat Jibril, melalui bahasa Arab, dan Nabi Muhammad pun bangsa Arab. Begitu halnya kata-kata Allah terhadap para Nabi-nabi zaman dahulu melalui bahasa Nabi masing-masing. Yang begitu tadi walaupun ucapan melalui bahasa Arab, tetapi jika makasudnya tidak dimengerti (dari Hatinya) pasti tanpa guna. Sebaliknya memakai bahasa Cina tembus dihati (batin) orang Cina, pasti tercapai tujuannya. Umpama pujangga Mhd. Iqbal yang tersebut diatas memohon sampai tulus dihati, karena tidak pandai bahasa Arab, itu hanya tertarik pada pusat Dalil-dalilnya Allah di Al-Qur’an, lebih dari itu tidak ada. Menjawab sebabnya bahasa itu sebenarnya tidak bisa dinamakan ucapan, umpama menyampaikan tidak memakai bahasa yang dimengerti oleh orang yang menerima, umpama orang jawa yang mendapat bisikan (wahyu) itu melalui bahasa jawa, itu yang benar. Dan ada pertanyaan lagi, apa doa-doa mantra-mantra bisa tembus (sampai) terhadap mayat, apa bisa mendoakan orang yang sudah mati?.
Adat masyarakat jawa mudah panatik disegala golongan, apa itu agama ataupun budayanya dan lain-lain. Panatik terhadap agama dan tujuannya itu terkadang bertindak tanpa pikir. Mengoreksi jalan atau ilmu pengetahuan, jangan tergesa-gesa, diterima dahulu harus dikoreksi, dipikir, bisa jumpa (selaras) dengan pikiran yang jernih, betul atau salah pikiran-pikiran bebas untuk memikir segala-galanya, dan bisa menjadi semangat jiwa. Bisa memilih yang benar dan yang salah, yang penting pikiran sehat (normal), jadi tidak mudah terpengaruh.
Allah berkata berulang-ulang, supaya menusia mempergunakan pikiran / akal yang sehat, jadi bukan urusan dunia saja, melainkan urusan ketuhanan, dan diselaraskan dengan akal yang sehat. Intisarinya percaya kalau Allah itu ada dan yakin bahwa akal dan pikiran menyaksikan. Menurut Mahatma Ghandi; Allah sifatnya Maha luas, Agung, dan memberi peluang kebebasan manusia berdasarkan Qodrat dan Irodat, jadi manusia berhak menjalankan Hakikatullah. Yakin kepada kekuasaan Dat Yang Maha Agung dan Maha luas, dibuktkikan bahwa Syeh Malaya (Sunan Kali Jaga) itu perampok, mencopet, menghisap morpin, berzinah, tetapi akal pikiannya bebas, bisa memilih dan bisa berpikir buruk dan baik, terakhir bisa menjadi Wali Wahid (No.1) termasyur sampai sekarang.
Contoh-contoh itu siapa saja bisa memiliki sifat Allah, tidak membeda-bedakan dengan cara apapun, berdasarkan mengetahui dan mengamalkan kitab suci. Ayat suci Qur’an surat Fathir : 22;
“dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar”
Sudah menjadi kebisaaan masyarakat jawa, merawat mayat, menyembahyangkan harus memakai Bilal (Muhdin-jawa), dan harus bahasa Arab. Karena menyangkut adat, sudah kita tinggalkan saja, yang penting mencari ayat-ayat diatas tadi. Kata mendengarkan itu berarti memakai telinga dan mendengarkan atau kata-kata;
1. Kata memperdengarkan supaya didengar orang lain.
2. Kata Kubur, asal dari bahasa Arab Qaburun (Qubrun), bahasa jawa alam barzah (Barzahum-Arab).
Jadi bukan tempat, tapi sebagai tanda (kuburan), maka disebut alam peralihan (alam antara), alam antara roh yang keluar dari jasmani. Jadi Roh manusia, hewan, dan lain umat, kalau meninggal gentayangan dialam Barzah (alam kubur), dan disebut siksa kubur dan nikmat kubur.
Yang diinginkan dengan kata memperdengarkan itu ialah menyembahyangkan (menyalatkan), memandikan mayat (telkim), baru diangkat lalu dikafankan, dan maksudnya mengantarkan Rohnya, mudah-mudahan diterima disisi Allah, setimpal dengan amalannya sewaktu hidup didunia, dan mendoakan lebar jalannya, dan terang jalannya, biasanya memakai Arab, dan ditahlilkan, menurut yang hidup semua, karena Allah yang berkuasa dan ada.
Apa-apa doa-doa tadi bisa diterima oleh mayatnya?; Roh yang keluar meninggalkan mayat, menuju kealam baka (Allah), yang sebelumnya tidak pernah dilewati (dialami sewaktu hidup), sewaktu hidup didunia berkumpul dengan anak istri, dan masih bisa mendengarkan azan dan musik, karena masih memiliki Tri indra dan panca indra. Lalu sesudahnya hanya Rohnya saja, telinga, mata, hidung, mulut tidak dibawa olehnya, artinya jasmaninya mati dan busuk. Karena mati, alat tadi tidak berfungsi, jadi si Roh tidak bisa mendengar, hanya merasakan bebannya Roh (lihat bab mati). Sangat disayangkan ada suatu golongan yang menyatakan Roh itu harus disediakan kesukaannya sewaktu didunia atau sewaktu masih hidup diletakkan dibawah tempat tidur, ada macam-macam kesukaannya, dan pasang lampu disebut sajian, semua itu tidak berguna sama sekali, tetapi semua itu sudah menjadi kebisaan (adat). Desa bermacam-macam cara, dikota bermacam-macam peraturan.
Jadi keterangan-keterangan tadi menjadi pengetahuan, karena akal pikiran terbuka dan bebas, serta berdasarkan ayat-ayat suci Dalil-Nya Allah, tidak bisa menerima kebisaaan itu. Hasilnya nanti merubah adat yang tua (kolot) dan menyingkirkan semua dari kegelapan, supaya pembatas masyarakat bisa terbuka dan tidak percaya tahayul (gugon tuhon-jawa). Umpama begitu Wedaran Wirid tidak menyalahkan adat, tetapi apa tidak menghindari ayat Qur’an Nul Qarim?, dan apa tidak menyalah gunakan ayat suci (dalil Qur’an). pendapat itu tidak mau menggunakan akal pikiran yang sempurna, karena kepanatikannya, karena sudah menjadi mendarah daging menurut kata-kata tahayul. Bisa juga memang kurang memahami batinnya, pengalamannya dan ilmunya. Sebenarnya ilmu Allah itu diterangkan tanpa batas. Bersambung………..

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar