Sabtu, 02 Juni 2012

Makalah "Wartawan bukanlah profesi yang mudah"

 Makalah:

"WARTAWAN"





FITRI YUNITA MARANAY



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

KATA PENGANTAR

Dengan ucapan Alhamdulillahirabbil alamin sebagai rasa terima kasih dan puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT sehinga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Tak lupa juga saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada dosen pembimbing mata Jurnalistik Dasar.
Tentunya dalam penyusunan makalah ini masih mempunyai banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan agar dalam pembuatan makalah-makalah di masa mendatang lebih baik lagi. Segala saran dan masukan sangat saya harapkan. Saya ucapkan terima kasih.


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………    1
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………    1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………...    3   
1.3 Tujuan……………………………………………………………………     3
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………….     4
A. Pengertian Wartawan……………………………………………………..     4
B. Jenis-Jenis Wartawan……………………………………………………..     4
C. Syarat Kerja Wartawan…………………………………………………...     5
D. Tugas Wartawan………………………………………………………….     7
E. Konsekuensi Menjadi Wartawan………………………………………….     9
BAB III PENUTUP……………………………………………………………….     10
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………..    10
3.2 Saran……………………………………………………………………………    10
DAFTAR PUSTAKA
  



BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Media massa merupakan sesuatu yang penting bagi manusia. Masyarakat sekarang ini sangat terfasilitasi  oleh media massa, baik media elektronik, media cetak, maupun media online dalam mendapatkan jenis  informasi  apapun.
Melalui media massa, masyarakat juga dapat menyampaikan kepada pemerintah tentang keinginan dan harapan mereka, serta menyampaikan saran dan kritik kepada pemerintah. Empat fungsi pers, yakni memberikan informasi, mendidik, menghibur, dan melakukan sosial kontrol. Artinya, pendidikan atau mendidik merupakan salah satu fungsi media massa.
Segala bentuk  informasi  yang dapat dinikmati dari media-media tersebut tak lepas dari perjuangan para pemburu  berita, kapan dan dimanapun terjadinya sebuah  peristiwa. Setiap harinya, para pemburu berita atau disebut wartawan ini menyajikan informasi-informasi terbaru sesuai dengan fakta yang ada secara lugas dan dapat dipercaya. Informasi-informasi tersebut sangat berguna bagi masyarakat.
Wartawan dan media massa adalah mitra pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dapat bekerja sama dengan media massa menyampaikan kepada masyarakat berbagai program kerja dan realisasinya. Berbagai hal yang telah maupun yang akan dilaksanakan oleh pemerintah dapat disampaikan kepada masyarakat melalui media massa. Dengan demikian, wartawan dan media massa berperan besar dalam pembangunan bangsa. Berperan besar melakukan pencerahan. Berperan besar dalam mendidik dan mencerdaskan bangsa
Wartawan, entah yang bekerja di surat kabar, majalah, radio, televise, maupun yang di internet beroperasi 365 hari setahun dan 24 jam sehari. Seseorang tidak berhenti  menjadi wartawan setelah pukul 5 sore seperti layaknya orang yang bekerja di kantor. Jurnalisme bukan sekedar pekerjaan, tetapi sebuah jalan hidup dimana seseorang dituntut untuk selalu mencari gagasan baru- it’s not just a job, it’s way of life and you are always on the look-out for a new idea. David Talbot, pemimpin redaksi salon.com, menanggapi buku the elements of jurnalisme. Mengatakan bahwa jurnalisme merupakan panggilan masyarakat yang tinggi. Semua yang terlibat mempunyai kewajiban yang lebih besar kepada audiences daripada kepada tuntutan pasar.
Wartawan adalah orang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, rasa keterlibatan besar terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan, memiliki integritas, cermat, andal, siaga, disiplin, serta memiliki keterbukaan. Sebagai orang yang senantiasa bersentuhan dengan publik, wartawan dalam menjalankan profesinya diikat oleh norma dan aturan-aturan yang berlaku di tengah masyarakat.
Kewajiban yang diemban wartawan melainkan tanggungjawab yang harus mereka pikul. Louis W.Hodges dalam responsible Journalism menyatakan bahwa ada tiga kategori tanggung jawab yang bisa diterapkan dalam dunia pers: 1) tanggung jawab yang didasarkan pada penugasan-assigned responsibilities, yaitu ada atasan yang member i tugas kepada bawahan.  2) tanggung jawab berdasarkan kontrak tanggung jawab ini berdasarkan perjanjian tidak langsung dengan masyarakat. Terkait dengan tanggungjawab berdasarkan kontrak dan tanggungjawab yang muncul dari diri sendiri, pers itu bersifat bebas dan bertanggung jawab kepada masyarakat untuk menyampaikan berita-berita yag akurat . 3) tanggugjawab yang timbul dari diri sendiri self-imposed responsibilities.
Euforia era reformasi tampaknya masih terasa hingga kini. Tiba-tiba banyak orang yang merasa berhak menjadi apa saja, termasuk menjadi wartawan. Orang yang merasa berhak dan mampu menjadi calon legislator bahkan mencapai ratusan atau bahkan ribuan dalam satu kabupaten / kota.
Khusus di bidang pers, banyak orang yang tiba-tiba menjadi wartawan dan memiliki kartu pers, padahal mereka tidak pernah melalui jenjang pendidikan jurnalistik yang memadai dan benar.
Karena tidak memiliki pendidikan yang memadai dan tidak pernah mendapatkan atau mengikuti pendidikan jurnalistik yang memadai dan benar, maka tidaklah mengherankan kalau banyak oknum wartawan yang menyalahgunakan profesinya dan melanggar kode etik wartawan atau Kode Etik Jurnalistik.
 
Dalam Undang-undang Pers ditegaskan bahwa wartawan adalah orang yang
secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. Wartawan bebas memilih organisasi wartawan, tetapi mereka harus memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Sebagai profesional dan dalam melaksanakan profesinya, wartawan mendapat perlindungan hukum.

1.2    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah makalah ini adalah bagaimana profesi sesungguhnya seorang wartawan sehingga tidak sembarang orang yang bisa dengan mudah menjadi seorang wartawan yang benar-benar profesional.

1.3    Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui profesi seorang wartawan dan menjadikan pedoman kita bagaimana  menjadi wartawan yang profesional.









BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Wartawan
Profesi para pemburu berita umumnya disebut sebagai wartawan, atau banyak juga sebutannya, seperti juru warta,reporter, news gatter, press-man, komunikator massa, nyamuk pers, kuli tinta, dan pembela kepentingan rakyat. Wartawan atau jurnalis adalah seorang yang melakukan jurnalisme, yaitu orang yang menciptakan laporan sebagai profesi untuk disebarluaskan atau dipublikasi dalam media massa, seperti koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan internet. Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalam laporannya, dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut tertentu untuk melayani masyarakat.
Dalam undang-undang No 11 Tahun 1996 pasal 1 dan 3 disebutkan bahwa:
Kewartawanan ialah pekerjaan/kegiatan/usaha yang berhubungan dengan pengumpulan, pengolahan dan penyiaran dalam bentuk fakta, pendapat, ulasan, gambar-gambar dan lain sebagainya untuk perusahaan, radio, televisi, dan film.
Menjadi seorang wartawan profesional harus membekali dirinya dengan; naluri seorang wartawan, observasi, keingintahuan, mengenal berita, menangani berita, ungkapan yang jelas, kepribadian yang luwes, pendekatan yang sesuai, kecepatan, kecerdikan, teguh pada janji, daya ingat yag tajam, buku catatan, berkas catatan/referensi, kamus (berkas-berkas diperpustakaan mengenai guntingan berita dan referensi lainnya), surat kabar/majalah/internet/tv/radio, perbaikan  demi kemajuan.

B. Jenis-Jenis Wartawan
Secara garis besar wartawan terbagi atas 4:
1)    Wartawan profesional
Adalah Wartawan yang memahami tugasnya dengan baik untuk memaksimalkan isi berita sesuai dengan fakta yang ada dan menggunakan bahasa yang baik dan benar yang dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan memenuhi etika.
2)    Wartawan Freelance
Adalah Wartawan yang tidak terikat pada satu penerbitan atau satu surat kabar saja. Umumnya wartawan freelance mencari berita dan nantinya berita tersebut disalurkan keberbagai media.
3)    Koresponden
Adalah Wartawan yang bertugas didaerah dan merupakan daerah yang berbeda dengan kantor pusat penerbit berita. Koresponden bertugas mencari berita yang nantinya akan dikirimkan melalui sarana komunikasi seperti telepon, faksimili, email dan lain-lain.
4)    Wartawan Kantor Berita
Wartawan yang bertugas mencari berita untuk satu kantor berita dan nantinya akan disalurkan atau dijual ke berbagai lembaga penerbitan yang membutuhkan.

C.  Syarat Kerja Wartawan
a. Tahu yang Menarik
Untuk mengumpulkan informasi yang sahih dan relevan untuk suatu tulisan, wartawan harus tahu apa yang menarik bagi pembacanya, apa dampak dan apa yang perlu mereka ketahui. Karena itu wartawan harus menemukan tema untuk ceritanya. Setelah itu wartawan mencari aspek- aspek yang dramatik, luar biasa, dan unik yang membedakan peristiwa yang diliput dengan peristiwa-peristiwa lainnya yang serupa.
Dalam usahanya mengumpulkan fakta ini, wartawan mengahadapi berbagai kendala. Waktu selalu terbatas; tidak selalu mudah untuk mendapatkan sudut pandang dari peristiwa yang diliput; sumber-sumber yang tidak mau kooperatif. Maka untuk berita tertentu wartawan kadang melakukan obsevasi diam-diam (identitas wartawan tidak diketahui oleh yang diamati) atau observasi dengan berpartisipasi di mana wartawan menjadi bagian dari peristiwa yang diliput.

b. Selalu Ingin Tahu
Seorang wartawan yang baik memiliki sifat yang juga ada pada pada murid taman kanak-kanak, yaitu selalu ingin tahu. Mereka akan menghujani orang tua atau guru mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Apa itu? Mengapa? Pertanyaan-pertanyaan itu baik digunakan untuk mengumpulkan berita. Tinggal menambahkan beberapa lagi; siapa, kapan, di mana, bagaimana, dan lalu apa?
Untuk menggambarkan sesuatu, seorang wartawan harus mengamati. Dan untuk mengatakan sesuatu, wartawan harus mencari tahu. Wartawan perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan bisa ditemukan oleh pembaca di dalam tulisan si wartawan. Martha Miller, wartawati The Orlando (Fla) Sentinel berkata: Anda menceritakan pembaca suatu cerita dengan cara tidak mengatakan. Anda menggambarkan. Tulislah sedemikian rupa sehingga mereka merasakannya. Gunakan seluruh indera anda untuk menempatkan pembaca seperti berada di tempat kejadian.
Berikut pertanyaan yang menjadi dasar-dasar bagi seorang wartawan dalam mengoservasi dan kemudian melaporkannya:
1.    Siapa (who)
Siapa nama lengkap dari orang-orang yang terlibat dan selalu mencek ejaannya untuk ketelitian.
2.    Apa (what)
Dapatkan cerita tentang apa yang terjadi.
3.    Kapan (when)
Catatlah hari dan waktu dari peristiwa itu.
4.    Di mana(where)
Berupa lokasi kejadian dan gambarkanlah.
5.    Mengapa(why)
Mengerti apa yang menjadi penyebab peristiwa itu. Apa yang menyebabkan konflik dan bila ada, bagaimana pemecahannya.
6.    Bagaimana(how)
Cari lebih banyak informasi tentang peristiwa itu, bagaimana itu bisa terjadi.
7.    apa(so what)
Apa dampak terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa ini? apa pula dampaknya bagi pembaca.


c. Mampu Observasi
penulis yang baik pertama-tama haruslah seorang wartawan yang baik. Dan wartawan yang baik menceritakan dan menggambarkan atas dasar observasi dan pengumpulan detail dengan menggunakan inderanya. Observasi tidak hanya terbatas untuk cerita-cerita tragedy atau kehidupan suram saja. Kekuatan observasi ini bisa digunakan untuk setiap peristiwa. Jika kita ingin agar pembaca bisa memvisualisasikan sumber kita atau tempat kejadian, maka salah satu teknik terbaik adalah menggambarkan keberaksian (show-in-action tech-nique). Teknik ini umum dipakai untuk cerita feature dengan penulisan deswkriptif. Tetapi teknik ini pun  bisa digunakan untuk berita-berita lugas atau bentuk pembuka halus (soft lead) suatu berita. Terlepas dari bentuk cerita apa pun, wartawan perlu memiliki keterampilan observasi.
Mengobservasi aksi dan detail yang ingin kita masukkan dalam cerita tidak sama dengan menyuarakan opini. Kita perlu menggunakan indera kita untuk menyimpulkan informasi, tetapi kita tidak boleh menyatakan pendapat tentang apa yang kita lihat. Wartawan harus menjaga agar pandangannya tidak masuk dalam berita. Satu-satunya tempat bagi opini wartawan atau interpretasi adalah pada tulisan analisis atau tulisan orang pertama (first person), yang biasanya didahului dengan kata pengantar redaksi.
Ada tiga tipe dasar observasi:
1.    Observasi partisipan
Wartawan terlibat dalam peristiwa yang diliput
2.    Observasi nonpartisipan
Kebanyakan observasi yang dilakukan wartawan adalah nonpartisipan. Misalnya melapor kebakaran.
3.    Observasi diam-diam

C. Tugas Wartawan
Dalam dunia kewartawanan, proses pencarian hingga penulisan berita kedalam sebuah media untuk diinfokan kemasyarakat nyaris 90% berasal dari wawancara. Wawancara merupakan tugas wartawan yang sifatnya wajib dalam mencari sumber berita. Mau tisak mau wartawan harus berhadapan dengan harus 5 W + 1 H. Artinya memenuhi Who (siapa), What (apa), When (kapan), Where (dimana) Why (mengapa) + How (bagaimana). Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi semacam jimat seorang wartawan dalam memandu proses jalannya wawancara.
Melakukan wawancara adalah mutlak dalam sebuah peliputan. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dengan wawancara wartawan bisa dengan cepat menemukan jalan pintas mendapat informasi dan menggali opini seseorang. Selain itu, wartawan berguna untuk menyerap informasi dari berbagai pihak sehingga apa yang menjadi opinni masyarakat saling terwakili.
Sekilas jika dilihat, menilai pekerjaan wartawan itu mudah, membidikkan kamera dan menulis sebuah berita. Namun, ternyata menjadi seorang wartawan atau jurnalis ternyata tugas seorang wartawan itu kompleks dan membawa misi perusahaan.
Kata jurnalis senior, menulis berita itu konflik yang diciptakan oleh penulis biasanya secara tersirat menyudutkan salah satu pihak dengan tidak menyertakan bukti alias menuduh. Sehingga hal itu secara gamblang tak hanya membuat citra perusahaan tercoreng, tapi juga menghanguskan market atau pasar media tersebut.
Haram hukumnya seorang wartawan menyajikan berita bertele-tele dan “mbuleti” dan membentuk opini masyarakat yang salah. Memang, seorang wartawan itu harus dekat dengan pembaca, maksudnya bukan secara riil, tetapi dekat karena tulisan yang ditulis mampu mengikat emosional pembaca.
Wartawan bagai seorang sutradara film. Bagaimana ending film, sutradara lah yang menentukan. Jika sutradara ingin aktor menangis, maka menangislah aktor tersebut. Jika sutradara ingin membuat penonton membenci aktor tersebut, maka sutradara tinggal memilihkan peran antagonis.
Disinilah sebetulnya peran seorang wartawan. Mengapa profesi ini sungguh kompleks. Itu karena profesi wartawan itu memegang kekuatan yang luar biasa yang disebut “opini publik”. Ketika publik digiring ke utara, maka akan ikut ke utara. Konon kekuatan opini publik bahkan mengalahkan kekuatan institusi keamanan dimana publik menjelma sebagai sebuah massa yang dapat bergerak tak tentu arah hanya dengan komando coretan pena yang tak seberapa mahal.
Siswa SD sekalipun telah memiliki ability atau kemampuan untuk melaporkan
peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Setidaknya ia sudah memenuhi 3 W yakni Who, What dan Why. Nah itu yang membuat seseorang menganggap profesi wartawan dipandang sebagai profesi yang “siapa saja bisa”.
Justru tidak sembarang orang mampu menjadi pewarta. Disamping membutuhkan skill khusus seperti mengabadikan gambar bergerak dengan kamera, seorang wartawan juga mutlak memiliki milyaran perbendaharaan kata. Jadi tulisannya tidak “itu-itu” saja yang sukses membuat membaca jenuh. Karena menjadi seorang pewarta merupakan satu langkah besar dalam pencapaian dan peningkatan SDM. Bekerja dan menimba ilmu itulah wartawan, berita yang ditulis otomatis menjadi sumber informasi tak hanya bagi publik namun bagi dirinya sendiri.

D. Konsekuensi Menjadi Seorang Wartawan
Wartawan adalah profesi yang mulia jika oknum-oknum yang menggeluti pekerjaan itu mampu mengimplementasikan norma-norma dan kaidah etika jurnalistik dengan baik. Sebagai manusia, biasa dia juga punya keterbatasan dan kekurangan.karena itu wartawan bukan Tuhan tentu memiliki kekurangan dan kelebihan. Hanya saja dalam menjalankan profesi sebagai insan pers sejatinya oknum wartawan dapat meminimalisasi tingkat kesalahan di lapanga, jika tidak konsekwensinya adalah oknum wartawan/pers bisa menjadi cemohan dan krisis kepercayaan publik terhadap pers. Oleh karenanya tantangan yang terberat dihadapi oknum wartawan dalam menjalankan profesinya mentalitas, rendahnya gaji, dan tidak tahan godaan yang biasa mempengarui kenetralan sebuah berita. Oknum wartawanpun seringkali menciptakan peta konflik di lapangan.
Seiring dengan perkembangan kemajuan tehnologi informasi dan menjamurnya media massa dan oknum watawan tanpa di imbangi satu pendidikan jurnalistik yang memadai melahirkan Oknum wartawan yang kerap bertindak menyimpang dari fungsi dan tugas pokoknya sebagai Seorang jurnalis. Tentu saja problem ini tanggungjawab para lembaga Pers dan organisasi yang tidak seenaknya merekrut calon-calon wartawan. Berbagai tantangan kerap dihadapi seorang jurnalis mulai prilaku dan sikap sehari-hari yang terkadang mempengaruhi dalam setiap tugas seorang wartawan .jika sikap mental tidak di bangun dengan baik maka akan melahirkan satu organisasi yang bisa mencederai profesionalisme.sikap arogan dan seolah-olah memiliki satu kekuatan yang tak dapat di sentuh. Oleh wilayah hukum merupakan bentuk pemikiran yang sangat keliru dalam menilai dan memandang tugas wartawan yang sebenarnya.
Selain itu, konsekuensi yang dapat membahayakan jiwa seorang wartawan yaitu ketika wartawan harus meliput suatu daerah atau Negara yang sedang dalam konflik atau peperangan.




BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dalam Undang-undang Pers ditegaskan bahwa wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. Wartawan bebas memilih organisasi wartawan, tetapi mereka harus memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Sebagai profesional dan dalam melaksanakan profesinya, wartawan mendapat perlindungan hukum.
Tidak mudah menjadi seorang wartawan karena ada aturan-aturan yang harus dipatuhi dan konsekuensi-konsekuensi yang dihadapi seorang wartawan dalam memperoleh berita atau informasi yang akan disajikan dihadapan khalayak sangat besar, konsekuensi yang dapat membahayakan karir bahkan jiwa seorang wartawan tresebut.

3.2 SARAN
Untuk menjadi wartawan yang profesional seharusnya menjalani  pendidikan jurnalistik terlebih dahulu. Agar dalam menjalankan tugas dilapangan tidak menyimpang dari kode etik seorang wartawan yang dapat mencederai idealisme wartawan dan pers sebagai pemberi informasi kepada masyarakat.






11
DAFTAR PUSTAKA

Buku Catatan Jurnalisme Dasar
http://forumnusantara.net/berita-290-arogansi-wartawan-cederai-profesionalisme-.html

http://blogberita.net/2008/05/19/8-syara...-wartawan/



























































Tidak ada komentar:

Posting Komentar